Selasa, 14 September 2010

Idul Fitri Pertama Setelah Pensiun Dini

. Selasa, 14 September 2010
3 komentar

Idul Fitri 1 Syawal 1431 H ini adalah Idul Fitri pertama saya setelah menjalani pensiun dini. Sebagaimana juga suasana Ramadhan yang terasa berbeda, suasana Idul Fitri juga punya perbedaan dibanding semasa masih bekerja. Perbedaan yang terjadi akibat perubahan beban tugas dan lingkungan sosial tentunya.

Karena tidak ada tugas rutin lagi, saya memiliki kebebasan untuk mengatur waktu menghadapi lebaran,seperti acara mudik dan kunjungan dan sebagainya. Saya tidak perlu pusing memikirkan pengaturan cuti tahunan agar masih bersisa untuk keperluan insidentil lainnya. Termasuk mengatur jadwal tugas piket yang menjadi pekerjaan rutin tiap hari raya.

Tapi harus saya akui ada satu hal yang hilang kali ini. Yaitu momen bersalam-salaman saling memaafkan pada hari pertama kerja setelah libur Idul Fitri. Tentu saja saya tetap akan datang menjumpai para sahabat di kantor lama saya, tapi waktunya perlu dicari yang lebih tepat.

Ada sedikit nuansa berbeda berkaitan dengan kegiatan bisnis yang saya lakukan. Paling tidak saya mesti memikirkan Tunjangan Hari Raya (THR) buat orang-orang yang terlibat di dalamnya. Yang jelas ada perbedaan tentang apa yang harus dipikirkan menjelang hari raya.

Dalam kesempatan yang baik ini, saya mengucapkan Selamat Idul Fitri buat sobat-sobat semua yang tidak bisa saya jumpai. Minal Aidin Wal Faizin. Mohon maaf lahir dan batin.

Buat rekan-rekan sesama pensiunan, semoga bisa menghadapi Idul Fitri ini dengan perasaaan bahagia dan diberi kesehatan jasmani-rokhani. Apa yang dicita-citakan setelah pensiun dini semoga dapat terkabul. Salam untuk keluarga.

Buat rekan-rekan yang masih bekerja, semoga kesuksesan selalu menyertai anda. Yang ingin naik pangkat bisa segera terkabul, dan yang ingin mutasi bisa terlaksana sesuai keinginannya. Salam juga untuk keluarga semua.

Klik disini untuk melanjutkan »»

Rabu, 08 September 2010

Tunjangan Hari Raya atau THR

. Rabu, 08 September 2010
0 komentar

Satu istilah yang dahulu sangat akrab di telinga dan kini tak terdengar lagi setelah pensiun dini adalah THR.Ya eyalah, namanya juga sudah pensiun, mosok sih masih mikirin masalah THR ? Sebenarnya bukannya memikirkan, cuma aneh saja kehilangan satu kosa kata tadi.

Istilah THR memang amat lekat dengan kehidupan seorang karyawan. Sekian hari menjelang hari raya Idul Fitri merupakan saat yang ramai karyawan berbincang tentang THR. Apalagi kalau sudah mendekati waktunya ternyata belum keluar juga, semakin seru pembahasan seputar hal itu.

Namun kita juga tahu bahwa tidak setiap karyawan bisa menikmati THR. Dari tayangan setasiun televisi, kita saksikan masih banyak perusahaan yang belum mampu memberikan THR bagi karyawannya. Tentu saja alasannya adalah kemampuan perusahaan yang tidak memungkinkan. Amat memprihatinkan !

Terlepas dari perlu atau tidaknya, kita tahu bahwa tradisi di negara kita dalam merayakan lebaran selalu berkaitan dengan pengeluaran yang meningkat. Tak bisa dihindari karena kita hidup bermasyarakat. Pakaian, atau setidaknya makanan, pasti diperlukan lebih khusus dibanding hari-hari biasanya.

Belum lagi bagi yang punya acara mudik. Kebutuhan biaya pasti akan meningkat jauh lebih tinggi. Dan bukan hal yang mudah untuk mengumpulkan uang atau menabung untuk keperluan tersebut. Kebutuhan rutin bulanan saja sudah pas-pasan.

Bagi yang bukan karyawan, pengusaha misalnya, atau pekerja mandiri, istilah THR mungkin memiliki pengertian berbeda. Mereka sudah terbiasa mengalokasikan dana untuk kebutuhan tersebut. Paling banter mereka berupaya memanfaatkan peluang secara lebih maksimal agar memiliki hasil cukup untuk merayakan hari raya. Pengusaha bahkan mesti memikirkan THR buat karyawannya.

Bagaimana dengan pensiunan ?

Pensiunan jelas harus lebih mampu mengelola dananya agar siap menghadapi kebutuhan insidentil seperti ini. Karena tidak ada lagi yang diharap kecuali dari apa yang dimilikinya saat pensiun. Harus mulai terbiasa tidak tergantung kepada pihak lain dan mengelola semuanya sendiri.

Akan lebih baik lagi bila dana yang dimiliki sebagiannya telah diputar sebagai modal bisnis. Dengan demikian tidak ada lagi kebingungan setiap menghadapi hari raya. Semoga.

Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin.

Klik disini untuk melanjutkan »»
 
Blog Pensiun Dini is proudly powered by Blogger.com | Template by Agus Ramadhani | o-om.com