Minggu, 20 Desember 2009

Kok Gagal ?? (edisi 2)

. Minggu, 20 Desember 2009

Di tulisan pertama saya mengupas tentang kabar kegagalan para peserta pensiun dini pada gerakan awal usahanya. Parameter yang digunakan untuk menyatakan indikasi gagal biasanya jika seseorang menderita kerugian besar dan kehilangan sejumlah besar uang. Betulkah demikian cara penilaiannya ?

Kalau saya sering membuat polarisasi antara kutub karyawan vs kutub wirausahawan, hal itu bukanlah dibuat-buat. Perbedaannya memang nyata, terutama dalam cara berpikir. Kalau kesalahan penilaian hanya ada pada kita sebagai pengamat, hal itu tidak apa-apa. Namun kalau kesalahan tersebut justru terjadi pada pelakunya, ini baru bahaya.

Sebenarnya kita sudah sama-sama maklum dan paham bahwa para pengusaha sukses dulu-dulunya juga mengawali dengan berbagai kegagalan. Dari berbagai wawancara, berbagai seminar, dan otobiografi yang dibuat pengusaha sukses, umumnya kita mendengar perjuangan pantang menyerah mereka dalam mengatasinya. Sampai-sampai ada kalimat bijak yang kira-kira begini bunyinya : bahwa seseorang yang belum pernah gagal adalah biasa saja, tapi orang yang mengalami kegagalan dan mampu bangkit, barulah benar-benar hebat.

Umumnya kita sepakat dengan hal tersebut. Namun anehnya, saat rekan kita mengawali usaha dan gagal, ternyata kita sulit menerimanya sebagai hal biasa. Bahkan ada yang memvonis langkah memasuki dunia usaha sebagai langkah blunder. Tidak boleh ada kata gagal yang menyebabkan kerugian sejumlah besar uang.

Ini memang cara berpikir yang karyawan banget. Masalahnya di dunia karyawan kan cuma ada pemasukan. Gaji, insentif, dan sebagainya. Tidak ada urusan pekerjaan yang membuatnya harus keluar uang, apalagi dalam jumlah besar. Bahkan kalau pun perusahaan merugi, hak-hak karyawan biasanya tetap wajib dibayarkan. Aman deh !

Jika para pelaku pensiun dini yang terjun ke dunia usaha tetap mempertahankan cara berpikir demikian, maka disinilah letak bahayanya. Bisa-bisa hanya kebagian pahitnya, tidak sempat merasakan manisnya. Begitu usaha gagal, semangat wirausaha yang tadinya menggebu langsung anjlog voltasenya. Padahal bisa saja keuntungan yang diharapkan justru ada pada langkah yang berikutnya.

Tapi apakah ada jaminan kalau langkah berikutnya akan berhasil ? Hanya si pelakulah yang bisa berupaya memastikannya. Apakah kegagalan yang terjadi sudah dipelajari ? Apakah cara-cara mengurangi resiko sudah dipelajari dan diterapkan ? Karena resiko akan selalu ada. Yang diperlukan adalah mempelajarinya dan menaklukannya. Maka imbalan menarik tersedia di depannya.

Perjalanan kegagalan kadang memang cukup panjang. Membutuhkan ketekunan, keuletan, semangat pantang menyerah, belajar terus menerus. Itu namanya semangat wirausaha. Dan seringkali cukup satu kali saja sukses, semua kepahitan tertutupi semua. Saya mengalaminya, dan kelak ceritanya saya akan sampaikan pada postingan lain waktu.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Ndak bisa mengubah itu dalam sekejap. Seharusnya untuk tahap awal mencari yang ringan risikonya. Salam....

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

 
Blog Pensiun Dini is proudly powered by Blogger.com | Template by Agus Ramadhani | o-om.com