Jumat, 01 Januari 2010

Konsep Realitas

. Jumat, 01 Januari 2010

Sekitar sepuluh tahun lalu saya pernah ditawari suatu proyek pembangunan pabrik untuk produk hasil pertanian. Nilai proyek kira-kira 3 M. Jangankan menerima, saya tengok pun tidak. Mengapa ?

Bagi saya pada waktu itu, pekerjaan senilai 3 M bukanlah realitas saya. Terlalu tinggi dan tak terpikirkan untuk melaksanakannya. Nilai yang masih masuk akal untuk saya perhatikan dan pertimbangkan paling-paling sekitar nilai puluhan juta, nilai ratusan juta juga sudah termasuk fantastis.

Realitas berarti sesuatu yang kita anggap real, berada dalam jangkauan pemikiran dan penguasaan. Dalam buku-bukunya R. Kiyosaki, realitas sering dipadankan dengan istilah konteks, untuk membedakannya dengan konten (isi). Dan realitas seseorang bukanlah sesuatu yang tetap, tapi bisa diperluas melalui pendidikan dan pengalaman.

Penjelasan tentang konteks dan konten yang paling mudah melalui penggambaran sebuah cangkir minum dengan air sebagai isinya. Jika cangkirnya kecil, maka bila air dicurahkan terus menerus akhirnya air hanya akan tumpah ke luar cangkir. Artinya, selain berupaya menambah konten (isi), kita juga perlu memperluas konteks.

Dalam dunia kerja, realitas atau konteks seseorang biasanya meningkat seiring peningkatan jenjang karir. Bagi anda yang merintis karir secara normal (bukan karbitan), dan kalau pun karir melesat adalah karena prestasi dan kompetensi, tidak akan terlalu bermasalah dengan penyesuaian realitas. Sewaktu mulai bekerja tak terbayang bagaimana menangani pekerjaan seorang manajer, tapi sekian tahun kemudian anda merasa posisi tersebut bahkan terlalu kecil bagi anda.

Untuk anda yang bergerak di dunia bisnis, perluasan realitas adalah sesuatu yang amat penting bila anda ingin bisnis anda meningkat. Caranya bisa melalui penambahan wawasan (sekolah, ikut seminar, membaca, dsb) serta dengan memperbanyak pengalaman.(menambah jam terbang) dalam berbisnis. Tentunya dengan kelas yang terus ditingkatkan nilainya.

Sekarang ini setelah pensiun dini, bila saya kembali ditawari proyek senilai 3 M, pastilah saya akan melihat dan menganalisisnya, dan mengambilnya jika menguntungkan. Meskipun pada saat ini saya juga tetap belum punya uang 3 M, gak masalah, karena nilai itu sudah berada dalam realitas saya. Sayangnya, .... enggak ada yang menawari, hiks !

Tapi, percayakah anda ? Yang datang justru tawaran proyek senilai 3 T. Hwaduh....! Kembali ini di luar realitas saya. Proses perluasan realitas saya tidak sepesat itu. Namun karena sudah sadar tentang konsep realitas, saya tetap memaksakan diri menengoknya. Cuma menengok saja !


2 komentar:

Anonim mengatakan...

bravo, mas salam kenal konsep bagus agar kita lebih mawas diri, jangan sampe gede pasak dan seterunya kan mas.
salam lagi, wanto

Agung Prasetyo mengatakan...

Uang yang dimiliki seseorang biasanya setara dengan pengembangan dirinya pak. Jika ada sebuah proyek yang tinggi, Insya Allah kualitas kemampuan kita setara proyek tersebut.

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

 
Blog Pensiun Dini is proudly powered by Blogger.com | Template by Agus Ramadhani | o-om.com