Bukannya selama bekerja enggak ada gunanya, tetapi beberapa ilmu yang saya dapatkan di bangku kuliah memang belum maksimal penerapannya. Padahal perusahaan sudah susah payah menyekolahkan saya. Siapa nyana ternyata setelah pensiun dini malah berguna.
Dengan basic teknik industri, saya memperoleh pelajaran tentang sistem produksi, proses produksi, perencanaan tata letak fasilitas, dan beberapa ilmu lain yang cocok sekali bila diterapkan di industri manufaktur. Karena bekerja di industri pelayanan jasa, maka hanya beberapa pelajaran yang bisa diterapkan langsung. Selebihnya saya lebih memanfaatkan pola pikir yang terbentuk di bangku kuliah tersebut.
Terus sekarang apa memang penerapannya ? Kerja lagi di pabrik ya ? Hohoho, tidak begitu ! Kebetulan salah satu usaha yang saya tekuni adalah usaha jamur, tepatnya dalam produksi baglog jamur tiram. Outputnya digunakan untuk memasok para petani jamur. O ya, baglog jamur adalah media dan bibit jamur dengan bentuk seperti gambar di samping.
Seperti pernah saya tulis sebelumnya, sebenarnya ini bukan usaha pribadi, tapi merupakan usaha kerjasama. Mitra usaha saya adalah pengusaha jamur yang sudah belasan tahun menggeluti bidang ini. Sesuai dengan permintaan pasar, kami harus memproduksi baglog jamur dengan kapasitas 3000 baglog per hari.
Menurut mitra saya, untuk memenuhi kapasitas produksi itu tinggal menambah alat rebus (sterilisasi) dengan kapasitas 3000 baglog. Saya mengiyakan saja karena dia yang sudah berpengalaman. Biar nanti saya mengevaluasinya sambil jalan. Soal produksi saya punya ilmunya.
Disinilah letak kelemahan banyak usaha kecil. Mereka lemah dalam manajemen usaha. Mitra saya ini seperti kebanyakan pengusaha sejenisnya, tidak mengerti tentang kapasitas produksi. Jika alat rebusnya mampu merebus 4000 baglog, dikatakan kapasitas produksi 4000 baglog.
Padahal ada rangkaian proses produksi yang harus selaras agar lancar menghasilkan kapasitas harian. Jelas mereka tidak paham network planning dan lintasan kritis. Hal inilah yang membuat kemampuan produksi menjadi tidak jelas ukurannya, walhasil pemenuhan permintaan juga mengecewakan.
Dengan membekali bagian produksi dengan form-form isian, satu bulan pertama saya berhasil mengumpulkan data untuk evaluasi. Ternyata kemampuan harian rata-rata hanya 1000 baglog. Akhirnya kami sepakat untuk perlahan meningkatkannya hingga mencapai 3000 baglog per hari.
Bukan hal mudah. Disinilah pelajaran semasa di bangku kuliah memperoleh penerapannya. Setelah melengkapi sarana sesuai kapasitas yang direncanakan, alur produksi diperbaiki dan distandarkan, akhirnya tinggal masalah tersulit : faktor manusia atau pekerja.
Terlalu panjang jika saya uraikan lengkap disini. Pada intinya, hasil perbaikan tersebut telah meningkatkan kapasitas produksi menjadi 2000 baglog per hari. Kami akan jaga dulu kestabilannya, sebelum bergerak ke kapasitas yang lebih tinggi.
Kamis, 29 April 2010
Ilmu Saya Terpakai Juga Akhirnya
Label: baglog jamur, bisnis jamur, kapasitas pabrik, proses produksi, sistem produksi, teknik industriSabtu, 10 April 2010
Blog Pensiun Dini Mendapat PR-1, Gairah pun Terpicu
Label: pemicu gairah, pensiunan, purnabhakti, purnakaryaTernyata mbah Google itu cukup menghargai pensiunan. Buktinya blog ini yang amat jarang update artikel, bahkan artikel terakhir sudah satu setengah bulan yang lalu, beliau kasih hadiah PR-1. Padahal Keliling Blog yang relatif lebih sering update cuma dapet PR-0.
Jadi mungkin memang ada permakluman jika pensiunan itu sudah semakin kurang aktif, hehe.. Enerji juga udah berkurang banyak, kecepatan berfikir juga udah model Pentium-1. Apa memang begitu ?
Semestinya sih tidak begitu. Jika fisik tetap dijaga, jika fikiran terus dipakai mengolah, penurunan kemampuan itu tidak akan terlalu terasa, sehingga sampai perlu dimaklumi. Kasihan amat, Amat aja gak pernah minta dikasihani, hehe...
Tapi yang namanya trigger atau pemicu itu memang merupakan hal yang diperlukan. Semua ada lantarannya. Contohnya blog ini jadi saya update lagi setelah munculnya PR-1 buat blog Pensiun Dini ini.
Sejalan dengan itu, para purnabhakti atau purnakarya, terserah apalah sebutannya, mesti pandai-pandai mencari bahan untuk pemicu tersebut. Jika ingin selalu bersemangat. Jika ingin gelora kehidupan tetap bersemayam di raga.
Kondisi purnakarya tidak harus mengubah banyak ritme hidup. Tidak harus mengisi waktunya hanya sekedar kumpul-kumpul sesama pensiunan, ngobrol ngalor-ngidul mengenang kehebatan tempo dulu. Ada yang bisa dilakukan lebih dari itu.
Caranya ? Untuk tahap awal, cobalah cari sumber api semangat anda. Anggap saja seperti mencari setitik bara di sisa-sisa kebakaran. Cari dan temukan sebelum segala sesuatunya sudah mendingin. Akan lebih sulit menyalakannya kembali.
Ngobrol dengan sesama pensiunan, termasuk yang pensiun dini, mungkin ada point bagusnya juga. Asalkan tidak berhenti pada proses kenang-mengenang. Mulailah mencari hal-hal yang lebih produktif. Dan yang sekiranya mampu memicu gairah kembali.
