Pohon yang dulu tumbuh di halamn rumah kini sudah rimbun. Wujud fisik kita dari tahun ke tahun berubah. Lingkungan tempat tinggal kita juga berubah. Seisi dunia berubah. Mengapa diri kita demikian sulit berubah ? Dan mengapa diri kita juga demikian sulit menerima perubahan ?
Bagi anda yang saat ini masih bekerja sebagai karyawan,hampir dipastikan situasi perusahaan banyak terjadi perubahan. Perubahan lingkungan bisnis yang demikian pesat menuntut banyak perusahaan, bahkan instansi pemerintah, berbenah diri melakukan perubahan. Ada yang berubah kecil-kecilan hingga yang melakukan transformasi bisnis besar-besaran.
Begitu pula bagi anda yang saat ini bergelut di dunia usaha sebagai wirausahawan, baik murni atau sekedar usaha sampingan. Berbagai perubahan dihadapi setiap saat, yang menuntut kemampuan merespons secara cepat dan tepat jika tidak ingin kehilangan peluang. Bukan sekedar kehilangan peluang, bahkan kelangsungan hidup usaha yang dijalankan bisa dipertaruhkan.
Baik anda karyawan ataupun anda seorang wirausahawan, perubahan yang terjadi di sekitar anda menuntut kemampuan anda menyesuaikan diri. Jika tidak maka kemungkinan besar anda akan tergilas oleh roda perubahan. Cara menyesuaikan diri adalah dengan kesediaan melakukan transformasi diri.
Melakukan transformasi diri berarti melakukan perubahan diri ke arah yang lebih baik. Seberapa besar derajat perubahan yang dibutuhkan amat tergantung kepada tuntutan keadaan. Yang pasti, anda harus bergerak bersama waktu dan perubahan agar anda tidak tertinggal jaman. Tentunya anda tidak ingin hidup di dunia terasing bukan ?
Langkah pertama dan terpenting adalah keikhlasan untuk berubah. Meskipun harus tertatih-tatih, memeras otak yang sudah semakin lemot, memaksa fisik yang sudah semakin reyot, anda harus tetap sabar dan terus belajar. Dan anda tidak sendiri. Banyak orang lain sedang bergerak bersama anda.
Sebagai contoh, bila perusahaan anda memasuki dunia internet maka anda juga harus belajar internet. Karena banyak proses kerja akan bersifat online. Apalagi jika produknya memang internet, maka sebagai karyawan seyogyanya akrab dengan produk-produk ikutannya, seperti email, situs/blog, e-commerce, dsb.
Begitu juga bagi anda wirausahawan. Dunia online, terlepas bisnis anda offline ataupun online, tidak bisa sepenuhnya lepas dari kegiatan bisnis anda. Paling tidak anda akan memerlukan warnet untuk mencari informasi. Memiliki alamat email akan menambah kredibilitas usaha anda, meski hanya usaha kecil.
Sudah siap untuk berubah ?
Jumat, 29 Januari 2010
Mari Berubah
Label: bisnis pensiunan, perubahan, usaha kecil, usaha sampinganRabu, 20 Januari 2010
Produk Inovatif Menjadi Solusi
Label: kerja dari rumah, penguras septic tank, produk inovatif, WC mampetSalah satu rencana dan keinginan saya mengawali hari-hari pensiun dini adalah menyelesaikan beberapa pe-er yang selama ini selalu tertunda dikerjakan atau disolusikan. Bener-bener pe-er (pekerjaan rumah), seperti atap bocor, pembenahan halaman, septic tank penuh, mengatur ulang kandang kelinci, dsb. Bisa saja sih panggil orang untuk menanganinya jika ingin sekedar selesai. Tapi karena ada beberapa hal prinsip dan terkait rencana ke depan, maka saya memerlukan waktu merencanakan dan mengaturnya sendiri.
Nah, sekarang saya sudah pensiun. Meskipun beberapa hari di awal ini cukup padat karena set-up beberapa unit usaha, tapi saya tahu saya cukup punya waktu untuk menyelesaikan pe-er di atas. Dan namanya nasib baik, ndilalah saat googling dan keliling blog saya menemukan solusi salah satu pe-er saya, yaitu masalah wc dan septic tank.
Septitank saya sudah penuh dan WC kadang mengeluarkan bau tidak sedap. Saya sedang berfikir apakah akan menyedot septic tank atau membuat baru saja. Karena sikon rumah, kedua pilihan tersebut sebenarnya sama-sama merepotkan, dan kalau bisa ya tidak dua-duanya. Dan solusi muncul di salah satu blog tetangga, yaitu produk inovatif hasil kerja ilmuwan ITB berupa cairan penguras septic tank. Pucuk dicinta ulam tiba, begitu kata peribahasa.
Nama produknya Degra Simba, kependekan dari DEGRAdable SIMbiosis Bacteria. Sesuai dengan namanya, bakteri ini dikatakan bersifat “Menguntungkan” karena :
Membunuh bakteri pathogen (ini bakteri penyebab penyakit)
Mengurai limbah di dalam septic tank / WC
Menurut yang tertulis di websitenya, ada 5 ALASAN Mengapa Harus Memakai Produk ini, yaitu :
1. Produk Inovatif yang sudah teruji, lisensi ITB Bandung & izin DEPKSES RI
2. Paling Praktis penggunaannya, cukup tuangkan ke dalam closet WC dan
disiram secukupnya
3. Paling Ekonomis, harga hanya Rp. 35.000 / botol (bandingkan! dengan
biaya sedot yang RATUSAN RIBU RUPIAH sekali SEDOT)
4. Ramah Lingkungan, mengandung Bakteri PROBIOTIK & aman bagi
manusia maupun lingkungan
5. Memiliki Nilai Bisnis, dengan hanya mendaftar GRATIS dan membeli
PAKET PRODUK, Anda menjadi pemilik bisnis ini.
O..lala, ada nilai bisnisnya juga ternyata. Dan kalau saya baca lebih lanjut, ternyata bisa juga hanya dijalankan dari rumah, gak perlu keluyuran jualan. Cocok buat saya yang kepengin kerja dari rumah. Nah, coba saja baca informasi dari websitenya berikut ini :
> Tidak perlu MODAL USAHA, cukup membeli paket produk (3 botol)
> Produk DIBUTUHKAN setiap rumah tangga, bukan ebook,bukan script, bukan software
> Tidak perlu BIAYA PENDAFTARAN, cukup mendaftar GRATIS!
> Tidak perlu MEMILIKI KEAHLIAN KHUSUS bak seorang sales!
> Dapat dilakukan paruh waktu, tanpa mengganggu aktivitas rutin Anda
> Dapat dilakukan di mana saja (dari RUMAH pun bisa), oleh siapa saja
Akses Pasar terbuka luas di seluruh wilayah Indonesia walau pun usaha ini dijalankan dari rumah sekalipun karena adanya teknologi internet (INGAT !! Pengguna internet di Indonesia saat ini cukup berkembang pesat, lebih dari 20 Juta orang)
Bagi anda yang berminat mengetahui lebih jauh, bisa dibaca disini.
Rabu, 06 Januari 2010
Main Jamur Yuk !
Label: pensiun dini, produk olahan jamur, usaha jamurKita sering mendengar kata jamur digunakan tidak pada tempatnya, ehm... tidak pada bendanya. Maksudnya, hanya untuk kiasan atau peribahasa gitu lho. Contoh : bisnis wartel dulu menjamur, pertumbuhan warung tenda bak jamur di musim penghujan, banyak turis asing berjamur di pantai (ha.. yg terakhir ini plesetan). Nah, jamur yang sesungguhnya ternyata bisa jadi lahan bisnis yang mengasyikan. Yuk, kita lihat !
Awalnya saya mengetahui tentang jamur dari rekanan bikin kos-kosan. Rekan satu ini memang berasal dari keluarga jamur. Artinya, kakak beradik semuanya membudidayakan jamur. Bahkan almarhum orangtuanya adalah peneliti jamur dan sudah menghasilkan beberapa buku tentang jamur. Kisah rekan ini bisa dibaca di artikel Pengusaha Jamur.
Sekarang kisah saya. Menyaksikan perjalanan usaha rekan saya tersebut di bidang usaha jamur, saya terus terang tidak tertarik untuk ikut terjun. Saya menghitung ada beberapa kelemahan yang membuat usahanya jalan di tempat. Kadang berkembang, kadang menyurut.
Pertama, jamur mudah busuk dan di daerah saya belum ada produk olahan jamur yang cukup menonjol untuk menampung hasil panen yang berlimpah. Kedua, pasarnya masih meragukan, baik dari segi daya tampung maupun kestabilan harganya. Ketiga, pembuatan baglog jamur lumayan tinggi resiko kegagalannya. Keempat, manajemen usaha kawan saya tersebut masih lemah.
Nah, bila akhirnya saya terjun ke usaha ini bukan karena semua kelemahan di atas sudah bisa dinetralisir. Beberapa faktor memang sudah menunjukkan perbaikan. Sebagai contoh, metode pembuatan baglog sudah semakin baik dan tingkat keberhasilannya meningkat pesat ke level aman, manajemen usaha terlihat mulai ditata dengan baik khususnya dalam tatacara produksi. Dan yang terpenting, cashflownya satu tahun terakhir ini terlihat bagus.
Namun penyebab paling utama saya memasuki dunia usaha jamur dan mengikat kerjasama dengan kawan saya tersebut adalah perubahan cara pandang saya sendiri terhadap permasalahan di atas. Saya sadar bukan sedang melakukan penelitian, tapi akan berbisnis. Jika dalam penelitian saya harus memperhatikan permasalahannya dari hulu ke hilir, jika ingin terjun ke usahanya maka saya cukup fokus ke bidang yang saya pilih. Masalah sisanya biar ditangani pihak lain yang berkecimpung di dalamnya.
Saya memilih usaha pembuatan baglog jamur, dimana pasarnya adalah para petani jamur.
Masalah pasar diamankan dengan adanya ikatan perjanjian dengan suatu instansi untuk memasok kebutuhan baglognya selama 3 tahun. Kapasitas permintaan juga lumayan besar karena instansi tersebut memiliki kumbung berdaya tampung 75 ribu baglog. Bahkan saat ini kami belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut 100%.
Selanjutnya masalah produksi. Faktor paling kritis, yaitu kegagalan baglog ditumbuhi spora jamur, akan menjadi fokus utama dalam pengendalian kualitas. Lalu perbaikan dalam cara pengangkutan untuk menghindari kerusakan bakal jamur. Dan akhirnya adalah upaya meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi volume permintaan.
Angan-angan saya sendiri setelah pensiun dini untuk dunia perjamuran, selain program utama tersebut yang sudah berjalan, ada dua kegiatan tambahan yang masih dalam rencana. Yaitu, membuka sendiri budidaya jamur (dari baglog hingga menghasilkan jamur untuk dijual). Kebetulan ada kawan yang sudah berpengalaman di sektor ini dan siap menjadi tim kerja saya.
Rencana kedua yaitu mempelajari pengolahan pasca panen produk jamur. Misalnya : dendeng jamur, keripik jamur, dan kemungkinan produk olahan lainnya. Untuk yang ini paling gampang kelihatannya via benchmark ke daerah yang sudah punya beragam produk olahan jamur.
Itulah mimpi saya tentang jamur. Semoga saja kelak di masa pensiun dini ini saya akan banyak makan jamur sehingga masalah kolesterol saya juga bisa ikut teratasi. Ada yang berminat ?
Jumat, 01 Januari 2010
Konsep Realitas
Label: konsep realitas, penambahan wawasan, pensiun dini, realitasSekitar sepuluh tahun lalu saya pernah ditawari suatu proyek pembangunan pabrik untuk produk hasil pertanian. Nilai proyek kira-kira 3 M. Jangankan menerima, saya tengok pun tidak. Mengapa ?
Bagi saya pada waktu itu, pekerjaan senilai 3 M bukanlah realitas saya. Terlalu tinggi dan tak terpikirkan untuk melaksanakannya. Nilai yang masih masuk akal untuk saya perhatikan dan pertimbangkan paling-paling sekitar nilai puluhan juta, nilai ratusan juta juga sudah termasuk fantastis.
Realitas berarti sesuatu yang kita anggap real, berada dalam jangkauan pemikiran dan penguasaan. Dalam buku-bukunya R. Kiyosaki, realitas sering dipadankan dengan istilah konteks, untuk membedakannya dengan konten (isi). Dan realitas seseorang bukanlah sesuatu yang tetap, tapi bisa diperluas melalui pendidikan dan pengalaman.
Penjelasan tentang konteks dan konten yang paling mudah melalui penggambaran sebuah cangkir minum dengan air sebagai isinya. Jika cangkirnya kecil, maka bila air dicurahkan terus menerus akhirnya air hanya akan tumpah ke luar cangkir. Artinya, selain berupaya menambah konten (isi), kita juga perlu memperluas konteks.
Dalam dunia kerja, realitas atau konteks seseorang biasanya meningkat seiring peningkatan jenjang karir. Bagi anda yang merintis karir secara normal (bukan karbitan), dan kalau pun karir melesat adalah karena prestasi dan kompetensi, tidak akan terlalu bermasalah dengan penyesuaian realitas. Sewaktu mulai bekerja tak terbayang bagaimana menangani pekerjaan seorang manajer, tapi sekian tahun kemudian anda merasa posisi tersebut bahkan terlalu kecil bagi anda.
Untuk anda yang bergerak di dunia bisnis, perluasan realitas adalah sesuatu yang amat penting bila anda ingin bisnis anda meningkat. Caranya bisa melalui penambahan wawasan (sekolah, ikut seminar, membaca, dsb) serta dengan memperbanyak pengalaman.(menambah jam terbang) dalam berbisnis. Tentunya dengan kelas yang terus ditingkatkan nilainya.
Sekarang ini setelah pensiun dini, bila saya kembali ditawari proyek senilai 3 M, pastilah saya akan melihat dan menganalisisnya, dan mengambilnya jika menguntungkan. Meskipun pada saat ini saya juga tetap belum punya uang 3 M, gak masalah, karena nilai itu sudah berada dalam realitas saya. Sayangnya, .... enggak ada yang menawari, hiks !
Tapi, percayakah anda ? Yang datang justru tawaran proyek senilai 3 T. Hwaduh....! Kembali ini di luar realitas saya. Proses perluasan realitas saya tidak sepesat itu. Namun karena sudah sadar tentang konsep realitas, saya tetap memaksakan diri menengoknya. Cuma menengok saja !
