Minggu, 27 Desember 2009

Dari Hi-Tech ke Sampah

. Minggu, 27 Desember 2009
3 komentar

Apa tepatnya bidang pekerjaanmu saat ini ? Bisnis hi-tech ! Lalu setelah pensiun dini mau ngapain ? Bisnis sampah ! Beneran neh..? Bener ! Kok bisa ? Ya, bisa dunk !

Tujuan saya pensiun dini dari pekerjaan memang untuk memasuki dunia wirausaha, dunia bisnis. Bukan untuk beralih pekerjaan. Makanya hal biasa saja jika saya memilih bisnis pertama saya adalah hal yang berhubungan dengan sampah atau limbah. Tak perlu berkaitan dengan bidang pekerjaan saya sebelumnya, bahkan sebenarnya tak perlu dipusingkan apa produknya.

Saya masih ingat di salah satu buku R. Kiyosaki ada tulisan yang menjelaskan bahwa bisnis adalah hal untuk menghasilkan uang, untuk menambah aset. Bisnis bukan untuk terikat kepada produk tertentu, apalagi demikian mencintainya sehingga berat untuk dilepas. Bahkan dikatakan bahwa produk adalah bagian yang paling tidak penting untuk dicermati saat mengevaluasi perusahaan.

Makanya gak masalah memilih bisnis mengelola sampah. Yang penting menghasilkan uang dan halal. Apalagi sampah adalah barang yang tidak pernah habis dan selalu diperbarui, hiks.... Tidak seperti minyak bumi yang sudah menipis cadangannya.

Apakah keuntungannya menarik ? Bagaimana Payback periodnya ? Dihitung gak IRR nya ? Hwalah.... ketinggian alat analisisnya. Lihat aja tuh, kayak apa kehidupan para juragan pemulung dan para pengolah limbah sampah. Mereka cukup kaya, dan hidup bergelimang sampah.... (uang juga tentunya).

Namun bisnis saya disitu baru sampai tahap cari uang kecil-kecilan. Namanya juga pemula. Dan saya niatkan tidak harus sampai bergelimang sampah (bergelimang uang boleh, kalau ada). Sumber sampahnya juga bukan mengumpulkan dari pemulung, tapi langsung dari pabrik. Lebih praktis, tinggal pilah-pilah sesuai kategori sampah dan jual ke channel-channel penadah yang tersedia.

Kalau mau bagi-bagi rejeki dan gak mau repot, agen-agen pembelian banyak berkeliaran untuk dimanfaatkan jasanya. Yang penting sudah tahu harga pasaran yang berlaku dan berani tawar-menawar harga jual. Maklumlah, semua orang maunya pasti untung besar. Dan, ini bisnis bung ! Yang bodoh dan kurang informasi menjadi mangsa yang pintar dan kaya informasi terbaru. Pastinya.

Kalau dibandingkan dengan modal yang dibutuhkan, keuntungan dari bisnis ini termasuk lumayan. Dengan modal usaha sekitar rp 15 juta – rp. 25 juta per tahun (membeli hak pengambilan limbah selama setahun, sewa lahan, dan membuat bedeng), dihasilkan pemasukan bersih per bulan antara rp. 3 juta – rp. 5 juta. Margin laba 100%. Wow !

Kalau uang pensiun dini saya separuhnya saja ditanamkan disana, coba hitung berapa pemasukan saya setahun dari keuntungan ? Ho...ho..., sayang sekali logika bisnis nggak seperti itu. Mau mbuat kelurahan sampah apa? Lha, berapa puluh pabrik yang harus menyuplainya? Nggak lah....! Memangnya punya hak monopoli. Enggak tahu juga kalau buka cabang di seluruh nusantara. Atau buat waralaba, wakak...wk...wk.!

Itulah langkah usaha pertama saya secara langsung, sebagai pemanasan menjelang pensiun dini.


Klik disini untuk melanjutkan »»

Sabtu, 26 Desember 2009

Memilih Tetap Bekerja

. Sabtu, 26 Desember 2009
2 komentar

Karena tulisan-tulisan yang cenderung mengarah ke pensiun kerja, seorang kawan mengkritik saya sebagai ’mentang-mentang mau pensiun dini’. Sebenarnya tidak demikian. Dalam tulisan saya berjudul Pensiun Dini, saya sampaikan bahwa program pensiun dini seperti dua jalan terbentang di muka. Tetap bekerja atau pensiun dini. Dua-duanya berisi peluang sekaligus resiko. Jika anda memiilih tetap bekerja, inilah tulisannya.

Jujur saja, jika selama ini saya tidak pernah bersentuhan dengan dunia usaha, tidak memiliki beban untuk membantu pelunasan hutang seseorang, maka saya kemungkinan besar lebih memilih tetap bekerja. Tidak mudah mengubah cara berpikir sebagai karyawan yang sudah melekat puluhan tahun. Dan sudah bukan rahasia lagi bahwa dunia usaha bukanlah dunia yang ramah.

Jika pembaca menyimak tulisan saya Strategi Keluar Karyawan, sebenarnya saya berharap tulisan tersebut bukan saja menginspirasi karyawan yang akan pensiun dini, tapi juga karyawan yang ingin tetap kerja. Karena kondisi ideal yang diinginkan juga bisa dicapai dengan kondisi tetap bekerja sebagai karyawan. Ada beberapa alternatif yang bisa dijalankan.

Bekerja dengan kekuatan penuh mengejar karir.
Setiap instansi atau perusahaan pada umumnya memiliki pola pengembangan karir dan sistem remunerisasi bagi karyawan. Semakin bagus sistemnya maka semakin besar pula peran karyawan dalam menentukan pencapaian dirinya. Posisi dan salary yang diinginkan bisa diraih dengan membuat berbagai prestasi kerja melalui kerja keras dan kerja cerdas.

Karena tidak ada ancaman kerugian atau kehilangan uang, maka karyawan bisa memusatkan konsentrasinya untuk bekerja dengan baik dan mengejar prestasi. Dengan kumpulan karyawan berprestasi, perusahaan akan maju pesat dan mampu memberikan kesejahteraan kepada karyawan secara spektakuler. Kombinasi salary dan tunjangan fasilitas yang sangat memadai akan membuat masa kini dan masa pensiun kelak sudah bukan persoalan lagi tentunya.

Bekerja sambil berinvestasi.
Dengan salary yang baik dan cara pengaturan yang baik dalam penggunaannya, karyawan akan memiliki sisa dana untuk investasi. Karyawan bisa belajar meningkatkan pengetahuannya tentang produk-produk investasi. Dengan bekal pemahaman tersebut, karyawan bisa berinvestasi tanpa harus mengganggu pekerjaannya.

Bekerja sambil berbisnis.
Jika disini saya menuliskan tentang bekerja sambil berbisnis, bukan bermaksud agar karyawan menggunakan waktu kerjanya untuk berbisnis. Tidak sama sekali. Banyak cara yang bisa dilakukan tanpa harus merugikan perusahaan tempat karyawan bekerja. Tentu saja hal itu bisa dilakukan dengan syarat-syarat tertentu, dan tidak mudah.

Syarat pertama tentu saja karyawan tersebut harus memiliki jiwa wirausaha. Sadar betul bahwa memasuki dunia bisnis berarti memasuki dunia berisi peluang dan resiko. Syarat kedua adalah pemahaman tentang sistem bisnis dan memilikinya untuk mendukung bisnis yang dijalankan. Syarat kedua ini perlu karena karyawan tidak menjalankan bisnisnya secara langsung (’kan harus kerja..). Bisnis harus bisa berjalan baik meski hanya mendapatkan perhatian paruh waktu.

Memiliki sistem bisnis yang baik bisa dengan cara membangun sendiri bila memang karyawan tersebut memiliki kemampuan untuk itu. Namun ada cara yang lebih mudah, yaitu dengan menggunakan sistem bisnis yang sudah disediakan pihak lain (sistem waralaba). Saat ini bisnis yang diwaralabakan sudah sangat banyak. Tinggal mempelajari dan memilihnya. Meskipun bisnis waralaba juga membutuhkan pengetahuan dan kemampuan untuk mengelolanya, setidaknya masih lebih ringan dibanding harus membangun sistem bisnis sendiri.

Selamat meraih impian !


Klik disini untuk melanjutkan »»

Jumat, 25 Desember 2009

Strategi Keluar Karyawan

. Jumat, 25 Desember 2009
5 komentar

Sebagai karyawan, anda tentunya mempunyai gambaran, atau harapan, bagaimana kondisi kehidupan anda saat pensiun nanti. Misalnya seperti : memiliki banyak waktu luang, sudah punya rumah, anak-anak sudah lulus perguruan tinggi, memiliki pensiun bulanan minimal rp. xx juta dan memiliki asuransi kesehatan. Inikah strategi keluar anda ?

Saya agak ragu apakah ada manfaatnya menulis tentang strategi keluar bagi seorang karyawan. Mengapa ? Karena tidak banyak kendali yang dimiliki seorang karyawan untuk menerapkan strategi keluarnya. Kapan berakhir (pensiun) juga sudah diatur. Namun karena setiap karyawan tentunya memiliki angan-angan bagaimana menjalani masa pensiunnya kelak (seperti digambarkan di atas), mari kita lihat apa yang masih bisa dilakukan untuk mewujudkannya.

Sebelum berbicara panjang lebar tentang strategi keluar, lebih dulu kita sepakati apakah strategi keluar itu. Strategi keluar atau strategi pengakhiran (exit strategy) adalah suatu rencana sistematis mengenai penarikan sumber daya dari suatu aktifitas, termasuk bagaimana pengakhiran atau pengalihan aktifitas akan dilakukan. Biasanya hal ini berhubungan dengan strategi "memulai dari akhir". Tujuan ditetapkan lebih dulu, barulah menyusun cara-cara pencapaiannya, kemudian ditentukan bagaimana memulainya.

Idealnya, strategi keluar seorang karyawan ditentukan sebelum ia melamar pekerjaan. Ia menetapkan dulu kapan akan keluar dari pekerjaan dan dalam kondisi seperti apa. Selanjutnya apa saja yang harus diraihnya semasa bekerja dan dengan cara bagaimana. Barulah kemudian dia menentukan tempat bekerja seperti apa yang cocok untuk penerapannya dan kapan dia akan mulai bekerja.

Nah, bagaimana ? Apakah anda sudah menjalankan proses seperti itu ? Syukurlah kalau ya. Masalahnya, rata-rata tidak seperti itu. Jangankan memilih tempat bekerja, bisa bekerja saja sudah minta ampun sulitnya. Dan setelah berhasil masuk kerja, sangat sedikit kendali karyawan untuk menjalankan rencana karirnya.

Sukses dalam pelaksanaan tugas tidak selalu berarti sukses juga dalam karir jabatan. Dan jangan lupa, jumlah formasi jabatan selalu terbatas. Meskipun misalnya 5 orang staf bekerja dengan kemampuan sama baiknya, kemungkinan hanya ada satu yang akan menduduki jabatan. Hal yang berbeda terjadi dalam dunia bisnis. Bila ada 5 pebisnis hebat, dimungkinkan lima-limanya meraih sukses yang sama

Selanjutnya tentang waktu keluar. Umumnya waktu keluar ditentukan oleh instansi/perusahaan, yaitu usia pensiun. Bisa saja karyawan mengajukan berhenti lebih awal, namun akan kehilangan beberapa hak yang seharusnya dia terima atau berkurang nilainya. Jarang karyawan melakukan ini bila tak ada hal-hal istimewa.

Dalam kenyataannya, banyak karyawan bekerja tanpa memikirkan strategi keluar. Kalau pun ada, hanya sedikit saja yang betul-betul memiliki dan mampu menjalankannya. Umumnya yang terjadi adalah seperti ini : pada awal masa bekerja karyawan memiliki harapan atau angan-angan tentang karir dan masa pensiun. Setelah menjalani masa kerjanya sekian waktu, mereka menjadi arif tentang apa yang bisa dicapai dan yang tidak. Realita tempat bekerja akan memaksa karyawan menyusun ulang mimpi-mimpinya.

Sebenarnya ada beberapa kondisi dimana seorang karyawan bisa berperan lebih besar dalam memainkan strategi keluar. Pertama, bila pekerjaan yang dimasuki hanya digunakan sebagai batu loncatan saja. Setelah tercapainya suatu kondisi, yang bersangkutan mengajukan berhenti dan memulai karir baru di tempat lain. Ini biasanya berkaitan dengan upaya mencari pengalaman kerja terlebih dahulu, sebelum menembak sasaran pekerjaan yang sesungguhnya.

Kedua, bila karyawan memutuskan pindah kerja pada saat dirasakan pekerjaan saat ini tidak mungkin mencapai impiannya. Namun biasanya keberanian untuk beralih pekerjaan menyurut seiring bertambahnya usia. Beban hidup sudah tinggi, amat berat jika harus memulai sesuatu yang baru mulai dari nol lagi.

Ketiga, bila perusahaan menawarkan program pensiun dini. Adanya program pensiun dini membuka kesempatan bagi karyawan memperbaiki keadaan. Karyawan dapat memanfaatkan hal ini sebagai peluang untuk menetapkan strategi keluar yang baru, yang memungkinkan untuk mencapai impiannya. Ada kondisi ke empat, yaitu bila terjadi PHK. Namun hal ini di luar kendali karyawan, meskipun kadang bisa juga menjadi "blessing in disguise".

Munculnya tawaran program pensiun dini merupakan pemicu bagi saya untuk menyusun ulang strategi keluar. Dengan mempertimbangkan kondisi saya saat ini, maka saya menyusun strategi keluar sebagai berikut :
> pensiun dini dari pekerjaan
> memasuki dunia bisnis berbekal hasil-hasil selama bekerja
> pensiun total dengan memiliki kebebasan finansial dan kebebasan waktu.

Bisakah ini menjadi jalan untuk mencapai impian saya ? Bisa ya bisa tidak. Yang terpenting adalah munculnya peluang-peluang baru. Jika sebelumnya masa pensiun sudah bisa diduga akan seperti apa, kini terbuka lagi berbagai kemungkinan untuk mencapai angan.

Bagaimana dengan Anda ?



Klik disini untuk melanjutkan »»

Jera

.
2 komentar

Jera atau kapok mencoba adalah kata yang tidak boleh ada dalam kamus wirausaha. Jera dalam satu kasus atau satu bidang usaha bisa saja terjadi, tapi bidang lain akan segera dicoba kelayakannya untuk dijalankan. Kegagalan yang dialami dianggap sebagai proses belajar dan menjadi alat untuk mencapai keberhasilan pada langkah yang berikutnya.

Diantara pembaca mungkin ada yang orang tua atau saudaranya seorang wirausahawan, bukan orang kantoran. Apakah mereka langsung berhenti jadi wirausahawan saat mengalami kerugian ? Pastilah tidak. Apalagi jika itu merupakan jalan hidupnya untuk mencari nafkah. Mengapa demikian ?

Biasanya karena wirausahawan melihat adanya peluang. Dia hanya akan berpikir apakah dia bisa langsung meraih peluang tersebut, ataukah perlu membayarnya dengan beberapa kegagalan dulu. Bila harus gagal dulu, apakah masih dalam kemampuan untuk menghadapinya. Tapi dia tahu dan yakin bisa meraihnya. Makanya dia tidak berhenti akibat kegagalan yang dialaminya. Jika tidak bisa langsung, bisa dicoba ambil jalan memutar.

Mirip kalau kita melihat ada rambutan ranum pada pohon di atas kepala kita. Kita berupaya melompat meraihnya. Kita tahu satu lompatan mungkin belum akan membawa hasil. Masih coba-coba mengukur daya lompatan. Meski mungkin harus korban lutut lecet-lecet, tapi masih bisa ditahan. Bahkan kalau masih belum berhasil juga, masih ada jalan menggunakan alat. Pokoknya kita yakin bisa mendapatkannya dan terus mengupayakannya.

Tentu saja keyakinannya bukan keyakinan buta. Ada proses evaluasi, ada proses belajar dari tiap kegagalan. Langkah berikutnya harus makin baik dan makin mendekatkan diri ke arah tujuan yang akan diraih. Dan kepuasan yang dirasakan saat meraih tujuan serta melewati segala halangan itu kadang lebih tinggi dibanding hasilnya secara material.


Klik disini untuk melanjutkan »»

Rabu, 23 Desember 2009

Kemana Anda berinvestasi ?

. Rabu, 23 Desember 2009
1 komentar

Ada peribahasa yang populer bagi orang yang berinvestasi, yaitu “Jangan menaruh semua telur di dalam satu keranjang”. Artinya cukup jelas, yaitu jangan menginvestasikan semua uang yang dimiliki hanya pada satu jenis produk investasi. Contoh : semua uang didepositokan, atau semuanya untuk beli tanah atau emas. Tujuan nasihat ini adalah untuk mengurangi tingkat resiko. Lalu bagaimana baiknya ?

Kadang ada yang berinvestasi pada satu jenis produk investasi tapi di tempat yang berbeda. Contoh : semua dana didepositokan tapi pada bank yang berlainan, semua dana untuk usaha tapi pada beberapa jenis usaha. Ini juga sudah lumayan bisa mengurangi resiko, walaupun masih cukup beresiko karena pada produk investasi yang sama.
Sebelum anda memutuskan akan menginvestasikan uang anda dimana, sebaiknya terlebih dahulu anda menetapkan apa tujuan anda berinvestasi. Tujuan anda akan menentukan produk investasi apa saja yang dipilih. Beberapa tujuan orang berinvestasi misalnya adalah untuk :
> mendapatkan pemasukan rutin untuk biaya hidup
> melindungi modal atau aset dari inflasi
> membangun kekayaan dan meningkatkan aset
> mencari keuntungan besar lewat spekulasi bisnis beresiko tinggi

Berikut ini adalah beberapa alternatif investasi yang bisa dipertimbangkan untuk mencapai tujuan anda.

Deposito.
Menaruh uang di bank atau deposito seyogyanya hanya untuk kepentingan likuiditas (mudah dicairkan). Dengan tingkat bunga/pengembalian saat ini yang sangat rendah (sekitar 6% - 7%) maka uang anda akan berkurang pelan-pelan nilainya karena digerus inflasi. Data inflasi rata-rata selama 8 tahun ke belakang kira-kira sebesar 9%. Dengan tingkat inflasi sebesar itu, maka uang anda akan turun nilainya tiap tahun sebesar 3% tanpa digunakan.

Wujud nominalnya memang bertambah karena ada bunga. Tapi nilai manfaatnya turun, karena harga barang-barang di luaran naik lebih cepat (itulah inflasi). Saran saya, gunakan deposito sebagai tempat menyimpan uang hanya untuk keperluan likuiditas. Saya menyimpan di deposito hanya untuk keperluan biaya hidup selama setahun.

Produk investasi keuangan lainnya.
Yang dimaksud disini adalah berupa saham, obligasi, atau bentuk-bentuk produk yang dihasilkan oleh lembaga reksadana. Setiap jenis memiliki karakteristiknya masing-masing. Sebaiknya perlu mempelajarinya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk menggunakan produk-produk ini.

Emas.
Emas murni bisa menjadi salah satu alternatif investasi. Bentuknya bisa berupa emas batangan, atau berupa koin dinar. Sejak dahulu emas dipercaya sebagai alat investasi karena relatif stabil dalam mengimbangi angka inflasi. Minimal nilai manfaat dana anda tidak berkurang akibat inflasi. Kalau beruntung bahkan bisa meningkat.

Informasi lebih jelas tentang investasi berupa emas ini dapat anda cari di situs-situs internet yang cukup banyak dijumpai. Saya pun berniat membuat postingan khusus tentang ini. Tunggu tanggal terbitnya.

Properti.
Belakangan ini pilihan investasi di properti semakin diminati. Bahkan banyak yang melakukannya menggunakan dana hutang bank. Yang termasuk dalam kategori investasi ini yaitu properti berupa rumah tinggal, ruko, apartemen, kos-kosan, atau tanah kosong. Tingginya minat orang karena banyaknya informasi bahwa investasi ini adalah investasi tanpa rugi.

Namanya investasi pastilah selalu ada kemungkinan resiko rugi. Namun harus diakui bahwa investasi ini mampu mengatasi masalah inflasi, karena pada umumnya nilainya akan terangkat naik seiring inflasi. Namun harus dipahami bahwa investasi ini tidak likuid. Nilainya mungkin naik tapi sulit mendapatkan uangnya karena tidak mudah menjual properti. Kadang bertahun-tahun bisa juga tidak laku-laku.

Bisnis.
Bila tujuan investasi anda adalah untuk membangun kekayaan dan meningkatkan aset yang dimiliki, bisnis adalah pilihannya. Anda bisa membangun suatu bisnis baru, betul-betul mulai dari nol. Resikonya tinggi, namun bila berhasil akan memberikan modal kepercayaan diri yang tinggi dalam berbisnis selanjutnya.

Bisa juga anda membangun kerjasama dengan pihak lain yang bisnisnya sudah jalan. Kerjasama bisa dilakukan dengan kerabat atau kawan yang sudah memiliki suatu usaha. Karena usaha sudah berjalan maka resiko gagal bisa diperkecil, meskipun tentu saja keuntungan harus terbagi.

Pilihan lainnya adalah terjun ke bisnis franchise. Menurut saya ini adalah pilihan yang paling cocok bagi orang yang baru terjun ke dunia bisnis. Dengan sistem yang sudah tertata dan teruji, tingkat resiko jauh berkurang namun masih cukup memberikan peluang untuk meningkatkan aset anda. Disiplin mengikuti ketentuan dari pihak franchisor sangat penting diperhatikan.

Di dalam dunia bisnis, ada korelasi antara resiko dan keuntungan. Umumnya peluang keuntungan yang tinggi juga disertai dengan tingkat resiko kegagalan yang tinggi juga. Demikian juga sebaliknya. Mencoba bisnis-bisnis beresiko tinggi seyogyanya dilakukan bilamana anda sudah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup, dan cukup cadangan dana bila terjadi kegagalan/kerugian.

Nah, sesuai isi pembukaan tulisan ini, anda bisa memecah dana yang anda miliki dalam beberapa pilihan investasi. Untuk langkah awal anda bisa menggunakan deposito sebagai tempat penampungan. Pilih jangka waktu yang singkat, misal deposito satu bulanan. Selanjutnya mulailah anda meningkatkan wawasan anda tentang produk investasi lainnya. Alokasikan dana anda ke suatu produk investasi hanya apabila anda telah betul-betul mempelajarinya.

Selamat berinvestasi.


Klik disini untuk melanjutkan »»

Minggu, 20 Desember 2009

Kok Gagal ?? (edisi 2)

. Minggu, 20 Desember 2009
1 komentar

Di tulisan pertama saya mengupas tentang kabar kegagalan para peserta pensiun dini pada gerakan awal usahanya. Parameter yang digunakan untuk menyatakan indikasi gagal biasanya jika seseorang menderita kerugian besar dan kehilangan sejumlah besar uang. Betulkah demikian cara penilaiannya ?

Kalau saya sering membuat polarisasi antara kutub karyawan vs kutub wirausahawan, hal itu bukanlah dibuat-buat. Perbedaannya memang nyata, terutama dalam cara berpikir. Kalau kesalahan penilaian hanya ada pada kita sebagai pengamat, hal itu tidak apa-apa. Namun kalau kesalahan tersebut justru terjadi pada pelakunya, ini baru bahaya.

Sebenarnya kita sudah sama-sama maklum dan paham bahwa para pengusaha sukses dulu-dulunya juga mengawali dengan berbagai kegagalan. Dari berbagai wawancara, berbagai seminar, dan otobiografi yang dibuat pengusaha sukses, umumnya kita mendengar perjuangan pantang menyerah mereka dalam mengatasinya. Sampai-sampai ada kalimat bijak yang kira-kira begini bunyinya : bahwa seseorang yang belum pernah gagal adalah biasa saja, tapi orang yang mengalami kegagalan dan mampu bangkit, barulah benar-benar hebat.

Umumnya kita sepakat dengan hal tersebut. Namun anehnya, saat rekan kita mengawali usaha dan gagal, ternyata kita sulit menerimanya sebagai hal biasa. Bahkan ada yang memvonis langkah memasuki dunia usaha sebagai langkah blunder. Tidak boleh ada kata gagal yang menyebabkan kerugian sejumlah besar uang.

Ini memang cara berpikir yang karyawan banget. Masalahnya di dunia karyawan kan cuma ada pemasukan. Gaji, insentif, dan sebagainya. Tidak ada urusan pekerjaan yang membuatnya harus keluar uang, apalagi dalam jumlah besar. Bahkan kalau pun perusahaan merugi, hak-hak karyawan biasanya tetap wajib dibayarkan. Aman deh !

Jika para pelaku pensiun dini yang terjun ke dunia usaha tetap mempertahankan cara berpikir demikian, maka disinilah letak bahayanya. Bisa-bisa hanya kebagian pahitnya, tidak sempat merasakan manisnya. Begitu usaha gagal, semangat wirausaha yang tadinya menggebu langsung anjlog voltasenya. Padahal bisa saja keuntungan yang diharapkan justru ada pada langkah yang berikutnya.

Tapi apakah ada jaminan kalau langkah berikutnya akan berhasil ? Hanya si pelakulah yang bisa berupaya memastikannya. Apakah kegagalan yang terjadi sudah dipelajari ? Apakah cara-cara mengurangi resiko sudah dipelajari dan diterapkan ? Karena resiko akan selalu ada. Yang diperlukan adalah mempelajarinya dan menaklukannya. Maka imbalan menarik tersedia di depannya.

Perjalanan kegagalan kadang memang cukup panjang. Membutuhkan ketekunan, keuletan, semangat pantang menyerah, belajar terus menerus. Itu namanya semangat wirausaha. Dan seringkali cukup satu kali saja sukses, semua kepahitan tertutupi semua. Saya mengalaminya, dan kelak ceritanya saya akan sampaikan pada postingan lain waktu.

Klik disini untuk melanjutkan »»

Rabu, 16 Desember 2009

Kok Gagal ?? (edisi 1)

. Rabu, 16 Desember 2009
0 komentar

Berdasarkan pengamatan saya, karyawan itu bagus dalam bekerjasama di dalam kantor. Tapi begitu urusan di luar kantor, urusan pribadi misalnya, maka yang terasa kental adalah aroma persaingan. Ada persaingan yang ditunjukkan cukup terang-terangan, tapi kebanyakan diantaranya bersifat terselubung. Dan itu terbawa hingga seorang karyawan pensiun. Weleh...weleh.....

Hasil kesimpulan saya ini tentu saja masih amat subyektif dan belum teruji kesahihannya. Pembaca mungkin bisa sama-sama mengamati di lingkungan masing-masing dan menyimpulkannya. Setelah itu beri pendapat di kotak komentar artikel blog ini.

Nah, yang ingin saya bahas sebenarnya adalah fakta bahwa kebanyakan peserta pensiun dini gagal dalam usahanya setelah menjalani pensiun dini. Bahkan di salah satu institusi bisa mencapai sekitar 80 % yang gagal. Darimana mencari data ini saya tidak bisa jelaskan secara ilmiah. Akurasinya pastilah tidak bisa dipertanggungjawabkan. Namun sekali lagi kita bisa melihat di sekeliling kita, salahkah informasi ini ? Rasanya cukup bisa dipercaya.

Sebenarnya tidak aneh jika terjadi fenomena tersebut. Jangan lupa bahwa dunia yang mereka kenal selama ini memang dunia kerja, sebagian besar sangat awam dengan dunia usaha yang penuh intrik di dalamnya. Namun apapun permaklumannya, kenyataan ini amatlah mengkhawatirkan dan mengenaskan. Mestinya mereka mendapatkan hal yang lebih baik, bukan sebaliknya.

Selain masalah awamnya kebanyakan peserta pensiun dini dengan dunia usaha, hal lain yang patut disesalkan adalah tidak adanya kerjasama yang baik diantara mereka. Jangankan kerjasama, komunikasi pun rata-rata tidak ada. Sepertinya masing-masing berusaha menyembunyikan apa langkah yang dilakukan. Entah karena kurang pede atau karena keinginan menunjukkan kesuksesan pribadi.

Kita kerap tahu kalau para pengusaha yang tulen pun banyak membentuk asosiasi dan kerjasama usaha. Karena kerjasama di dalam usaha adalah mutlak adanya. Padahal kemungkinan besar awalnya mereka tidak saling kenal. Bisnis lah yang mempersatukan mereka. Makanya menjadi aneh jika para peserta pensiun dini, yang notabene banyak berasal dari 'kandang' yang sama, justru tidak melakukannya.

Saya belum pernah mendengar ada asosiasi yang terbentuk diantara peserta pensiun dini. Tidak perlu harus kerjasama usaha bila memang tidak ada kecocokan atau pun kepercayaan. Setidaknya tersedia ajang untuk berkumpul, saling tukar link eh... tukar pengalaman, dan saling memberi semangat. Pengalaman yang buruk bisa disampaikan agar tidak menimpa yang lainnya. Dan bila ada yang menjumpai peluang bagus serta masih ada peluang pemain baru maka juga bisa ditularkan.

Mengapa itu semua tidak terjadi ? Mengapa yang terjadi justru begitu lepas dari kantor, masing-masing menghilang tanpa kabar berita ? Biasanya cuma terdengar selentingan si A bergerak disana, si B usaha di sini, atau si C yang istirahat total. Selang beberapa bulan, mulailah kabar menggiriskan terdengar, meskipun juga hanya berupa selentingan. Usaha si A hancur berantakan, si B Cuma bisa bertahan, dan sebagainya. Wuihh.....

Amat menyesakkan dada ¡

Nah, ide membuat blog ini salah satunya adalah untuk mengurangi kondisi negatif tersebut. Saya berharap para peserta pendi bisa saling berkomunikasi disini melalui komentar. Bisa juga melalui tulisan tentunya bila memang ada hal penting yang kiranya perlu disampaikan. Bila bertemu langsung dirasa banyak kendala, melalui blog ini kendala jarak jauh bisa dihilangkan.

Kita juga bisa berharap adanya masukan dari rekan-rekan yang masih aktif bekerja serta pembaca lainnya yang bersimpati. Makanya blog ini pun sifatnya terbuka buat siapa saja. Bila semua ini bisa berjalan, bisa diharapkan angka kegagalan seperti dilansir di atas bisa jauh berkurang. Semoga.


Klik disini untuk melanjutkan »»

Mengapa Pensiun Dini

.
1 komentar

Jika pertanyaan ini diajukan ke peserta pensiun dini, beragam jawaban akan kita dapatkan. Dari alasan sudah tidak bisa mengikuti perkembangan perusahaan, alasan demi mengatasi suatu permasalahan, ada peluang baru di luar, hingga alasan sekedar sudah lelah bekerja dan ingin secepatnya menikmati masa istirahat. Alasan yang terakhir, kata lainnya adalah sekedar ingin jadi pengangguran.

Ingin jadi pengangguran sebenarnya bukanlah sekedar. Bagi saya ini justru merupakan pencapaian tertinggi. Masalahnya adalah kondisi yang menyertai posisi menganggur tersebut. Misalnya, apakah sudah mencapai kebebasan finansial. Artinya, bahwa kondisi keuangan sudah menjamin kebutuhan hidup selama masa menganggur.

Untuk saya pribadi, pengangguran merupakan strategi keluar saya. Tentunya dengan beberapa parameter sebagai persyaratannya. Dan salah satu yang terpenting tentunya adalah kebebasan finansial. Kalau pakai rumus matematik, pemasukan tanpa kerja/usaha > biaya hidup. Istilah populernya, pendapatan pasif > biaya hidup.

Persyaratan lainnya adalah bahwa menganggur bukan berarti tidak produktif, namun karena sistem sudah berjalan. Baik sistem investasi maupun sistem bisnis. Jangan dilupakan bahwa bukan hanya diri kita dan keluarga saja yang perlu dicukupi. Ada orang-orang yang kebetulan tidak memiliki kemampuan dan kesempatan seperti kita yang perlu juga dibantu. Produktifitas harus tetap dijaga.

Nah, jadi tujuan saya pensiun dini adalah agar lebih cepat jadi pengangguran. Pengangguran yang berkecukupan dan mampu membantu sesama. Lebih cepat berarti mempunyai kendali terhadap waktu. Berkecukupan berarti mempunyai kendali terhadap pemilihan tingkat hasil/pendapatan yang diterima. Mampu membantu sesama berarti memiliki keluangan waktu, tenaga, dan dana.

Tentu saja semuanya tetap dalam koridor atas ijin Alloh Swt. Dan agar dapat ijin maka niat dan pelaksanaannya juga harus baik, membawa manfaat dan tidak menyusahkan orang lain.

Hal-hal di atas amat sulit saya raih di dunia kerja. Sulit rasanya berupaya agar setiap sekian tahun naik pangkat. Terlalu banyak variabelnya. Dalam hal pendapatan gaji juga sudah diatur dan tanpa kejutan-kejutan berarti. Jika bulan ini saya lipatgandakan kerja keras saya maka tidak serta merta pemasukan bertambah. Sedangkan mencari keluangan waktu, tenaga, dan dana sudah terbukti selama ini belum berhasil.

Selepas pendi, saya belum akan menganggur. Namun berupaya mencari cara agar secepatnya bisa menganggur. Inginnya ya sebelum usia 55. Dan disinilah tantangannya. Bermodalkan hasil investasi semasa kerja (dana dan kompetensi), berupaya mencari kendali lebih besar untuk mempercepat pencapaian tujuan. Bisa berhasil, bisa gagal total. Tapi itulah seninya. Hidup kembali dimulai.

Klik disini untuk melanjutkan »»

Selasa, 15 Desember 2009

Memandang Kerja Sebagai Investasi

. Selasa, 15 Desember 2009
2 komentar

Tetangga saya, Pak Dahlan, biasa kami panggil Pak RW, adalah seorang pensiunan Pemda yang pensiun normal beberapa tahun yang lalu. Ada pandangan tentang kerja yang cukup berkesan buat saya. Yaitu bahwa beliau memandang kerja sebagai investasi bisnis. Selama ini kalau saya mendengar kata investasi bisnis, konotasi saya adalah ke dunia bisnis atau wirausaha, bukan dunia kerja. Apakah maksud perkataan pak RW ini ¿

Ketua RW saya ini berkata bahwa kerja tidak ubahnya bisnis. Dengan modal awal berupa pendidikan atau ketrampilan, selanjutnya dijalankan dan menghasilkan laba bulanan berupa gaji. Seiring peningkatan karir, bisnis makin membesar dan menghasilkan laba gaji yang kian besar juga. Dan selayaknya bisnis, ada aset yang berkembang/meningkat.

Tanpa disadari oleh si karyawan (kadang), dari aset nol saat mulai bekerja dulu, di usia pensiun karyawan telah memiliki aset yang diwujudkan dalam bentuk tunjangan pensiun plus kelengkapan lainnya (misal : pengobatan). Jika ingin melihat lebih jelas wujud aset tersebut adalah pada kasus karyawan pensiun dini. Sejumlah uang kompensasi yang diterima merupakan aset yang dibangunnya selama kerja.

Tentu saja semua itu masih tergantung kepada kondisi kantor atau perusahaan dimana yang bersangkutan bekerja. Bonafid atau tidak. Selain itu juga faktor perkembangannya, apakah perusahaan tumbuh pesat atau tidak. Karena ada juga perusahaan yang tidak memiliki program apa pun mengenai hal ini sehingga karyawan hanya memperoleh gaji dan tak tersisa apa pun saat pensiun.

Bukan hanya berbentuk uang, aset yang diperoleh seorang karyawan dari pekerjaannya. Pendidikan, ketrampilan dan pengalaman yang terbentuk selama bekerja juga merupakan aset yang tak ternilai. Tidak mustahil jika ketiga aset tak nampak ini justru memiliki nilai lebih tinggi dibanding sekedar uang kompensasinya.

Selama ini saya bekerja dengan kesadaran penuh tentang hal di atas. Bila ajuan pensiun dini saya disetujui, saya akan menikmati hasil investasi saya selama 22 tahun ini dalam bentuk sejumlah dana dan berbagai pengetahuan, ketrampilan serta pengalaman saya di perusahaan. Dan saya akan lanjutkan proses investasi saya menggunakan hasil yang saya peroleh dari kegiatan investasi pertama tersebut.

Memandang kerja sebagai investasi bisnis membuat kita tidak hanya memikirkan gaji beserta tunjangan-tunjangannya saja. Kita seyogyanya secara sadar terus berupaya meningkatkan kinerja investasi kita melalui peningkatan pengetahuan, ketrampilan , dan pengalaman. Tidak menjadikan tugas pekerjaan sebagai beban belaka namun berupaya mempelajari ilmunya. Semakin beragam dan penting tugas yang diberikan perusahaan, maka semakin meningkat nilai investasi kita disana.

Jika dirinci, aset tak nampak yang saya peroleh diantaranya adalah : kemampuan dan ketrampilan bekerja dengan IT, pengalaman menangani alat produksi, kemampuan dan pengalaman menangani pelanggan, kemampuan mengelola tim kerja (kepemimpinan), dan sebagainya. Oya, hampir lupa, S-1 saya juga dibiayai perusahaan.

Dan bila pensiun dini saya disetujui, saya siap dengan investasi bisnis tahap kedua, menggunakan hasil-hasil pada investasi pertama.



Klik disini untuk melanjutkan »»

FORUM DISKUSI : tempat berkenalan, diskusi, bertanya, dll

.
0 komentar


Klik disini untuk melanjutkan »»
 
Blog Pensiun Dini is proudly powered by Blogger.com | Template by Agus Ramadhani | o-om.com